Friday, March 8, 2019

pengertian bahasa dan hakikat bahasa


PENGERTIAN BAHASA DAN
 HAKIKAT BAHASA


A. Pengertian Bahasa
Dalam beberapa abad, para linguistik dan psikolog telah berusaha mendefinisikan istilah bahasa verbal. Diantara definisi-definisi tersebut adalah sebagai berikut.
  1. Bahasa adalah suatu sistem komunikasi menggunakan bunyi yang diucapkan melalui organ-organ ujaran dan didengar di antara anggota-anggota masyarakat, serta menggunakan pemrosesan simbol-simbol vokal dengan makna konvensional secara arbitrer. ( Pei dalam Brown,1987:4).
  2. Bahasa adalah seperangkat sistem simbol linguistik yang digunakan di dalam suatu kebiasaan yang sama oleh sejumlah orang yang memungkinkan orang berkomnikasi dan dapat di mengerti antara satu dengan yang lainnya. ( Random House Dictionary of the English Language, dalam Brown, 1987:4).
  3. Bahasa adalah sebuah sistem simbol vokal yang arbitrer dan digunakan untuk komunikasi manusia (Wardhaugh dalam Brown, 1987:4).


Ada berbagai macam cara manusia berbahasa yang sering dilakukan oleh partisipan komunikasi, yaitu ada 6 bahasa :
  1. Bahasa diam yaitu cara berkomunikasi di mana lawan bicara menanggapi dengan cara diam.
  2. Bahasa tanda yaitu komunikasi dengan menggunakan tanda-tanda. Bahasa ini banyak digunakan oleh para polisi lalu lintas. Contohnya seperti rambu-rambu lalu lintas.
  3. Bahasa kode yaitu cara berkomunikasi dengan menggunakan isyarat. Contohnya: dalam bangsa indonesia , dengan menganggukkan kepala berarti setuju, dan menggelengkan kepala berarti tidak setuju. Bahasa ini sering digunakan dalam kegiatan kepramukaan seperti berkomunikasi menggunakan isyarat- isyarat lewat semaphore.
  4. Bahasa kontak yaitu cara berkomunikasi dengan cara menyinggungkan anggota tubuh dengan lawan bicara. Contohnya ketika seseorang sedang berbela sungkawa karena ditinggal mati oleh anggota keluarganya , seorang pelayat menepuk-nepuk bahu orang yang sedang berbela sungkawa supaya tabah dan sabar. Seorang nenek sedang membelai-belai rambut cucunya pertanda mencurahkan kasih sayangnya.dan seorang atlit memenangkan kejuaraan , biasanya akan dipeluk erat-erat oleh rekan atau pelatihnya, artinya bangga dan mengucapka selamat.
  5. Bahasa simbol yaitu bahasa yang disimbolkan. Lawan komunikasi dapat memhami dengan mengamati simbol yang digunakan oleh komunikator. Contohnya pemakaian cincin di jari manis tangan kiri , untuk memberi tahu orang lain bahwa dia telah bertunangan , sedangkan cincin dipakai di jari manis tangan kanan berarti telah dinikahkan. Bedanya bahasa simbol dengan bahasa tanda yaitu dalam bahasa tanda biasanya dilambangkan dengan huruf-huruf atau lukisan-lukigsan, sedangkan bahasa simbol diwujudkan dengan barang. Misalnya pada kegiatan cinta alam, bila di tengah jalan diberi ranting da daun secara menghadang bukan menbujur berarti tidak boleh meneruskan jalan tersebut.
  6. Bahasa verbal yaitu komunikasi antar partisipan dengan cara menggunakan organ-organ atau lambang-lambang verbal. Apabila menggunakan organ mengacu pada bahasa lisan, sedangkan apabila menggunakan bahasa verbal berarti mengacu kepada bahasa tulis. Misalnya bahasa verbal lisan digunakan oleh beberapa orang yang sedang berdiskusi, wawancara,simposium,berbincang-bincang santai, pidato, dan sebagainya. Bahasa verbal tulisan digunakan oleh penulis buku,novel,cerpen,dan sebagainya.


B. Hakikat Bahasa

Menurut teori struktural , bahasa dapat didefinisikan sebagai suatu sistem tanda arbiter yang konvensional. Berkaitan dengan ciri sistem , bahasa bersifat sistematik dan sistemik. Bahasa bersifat sistematik karena mengikuti ketentuan – ketentuan atau kaidah yang teratur. Bahasa juga bersifat sistemik karena bahasa itu sendiri merupakan suatu sistem atau subsistem – subsistem. Misalnya , subsistem fonologi , subsistem  morfologi ,subsistem sintaksis , subsistem semantik, dan subsistem leksikon.

Bahasa adalah alat yang sitematis untuk menyampaikan gagasan atau perasaan dengan memakai tanda-tanda yang disepakati dan mengandung makna yang dapat dipahami.

Hakikat bahasa menurut hari murti krida laksana dalam kamus linguistik edisi ketiga adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.

Menurut H. Douglas Brown dalam bukunya henry Guntur tarigan “pengajaran pragmatik” menyebutkan hakikat bahasa sebagai suatu sistem yang sistematis juga untuk sistem generative, seperangkat lambang-lambang atau simbol-simbol arbitrer.

Menurut Abdul chair dan leonie agustine menyebutkan hakikat bahasa dalam buku “pragmatic : perkenalan awal” yaitu sebuah system, artinya bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan.

Disamping itu, menurut A.S.Hornby (1996) dalam oxford advanced Learne’s dictionary, menyatakan bahasa adalah system bunyi dan kata yang digunakan manusia untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya.

Berdasarkan definisi bahasa dari krida laksana dan dari beberapa pakar lain, maka dapat disebutkan ciri-ciri atau sifat yang hakiki dari suatu bahasa, ciri dan sifat itu  antara lain sebagai berikut:

1. Bahasa sebagai sistem.
Maksudnya bahwa bahasa tersebut terdiri dari unsur-unsur atau komponen teratur dan menurut pola tertentu.
Contohnya:
Saya = sistematis dan memiliki makna
Yasa = tidak sistematis dan tidak memiliki makna.
Aasy = tidak sistematis dan tidak memiliki makna.

2. Bahasa sebagai lambang.
Lambang-lambang bahasa diwujudkan dalam bentuk, yang berupa satuan-satuan bahasa seperti kata atau gabungan kata.
Contohnya:
Bendera merah putih
Merah = berani
Putih = suci
3. Bahasa adalah bunyi.
System bahasa itu berupa lambang yang diwujudkan berupa bunyi. yang dimaksud dengan bunyi pada bahasa atau termasuk lambang bahasa adalah bunyi yang bukan dihasilkan alat ucap manusia tidak termasuk bunyi bahasa.
Contohnya:
Bunyi teriakan, bersin, batuk, dan lain sebagainya.

3. Bahasa itu bermakna
Bahasa itu adalah system lambang. Oleh karena itu lambang-lambang itu mengacu pada suatu konsep, idea tau pikiran. Maka, dapat dikatakan bahwa bahasa itu mempunyai makna.
Contohnya:
Kuda = berkaki empat, binatang peliharaan, sebagai alat transportasi.

4. Bahasa itu arbitrer
Arbitrer adalah sembarang, sewenang-wenang, mana suka, berubah-ubah.Maksudnya adalah tidak ada hubungan wajib antara lambang bahasa dengan konsep atau pengertian yang dimaksud lambang tersebut. Misalnya kita tidak bisa menjelaskan hubungan antara lambang bunyi (air) dengan benda yang dilambangkan yaitu benda air yang dipakai.
Contohnya:
Kuda yang disebut oleh orang.

5. Bahasa itu konvensional.
Hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkan bersifat arbitrer tetapi penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat konvensional.
Contohnya:
Semua masyarakat jawa menyebut pesawat dengan sebutan kapal terbang.

6. Bahasa itu bersifat produktif.
Maksudnya adalah walaupun unsur-unsur bahasa itu terbatas, tetapi dengan unsur-unsur yang jumlahnya terbatas itu dapat dibuat satuan-satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas, meski secara relatif, sesuai dengan yang berlaku pada bahasa itu.
Contohnya:
Galau, alay, lebay.

7. Bahasa itu unik.
Unik artinya mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimilki oleh orang lain. artinya setiap bahasa mempunyai ciri khas tertentu yang tidak dimiliki bahasa lain.
Contohnya:
Bahasa banjar berbeda dengan bahasa jawa.

8. Bahasa itu universal.
Artinya ada cirri yang sama dimiliki oleh setiap bahasa di dunia. Karena bahasa itu berupa ujaran, maka cirri universal dari bahasa yang paling umum adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vocal dan konsonan.
Contohnya:
I love you dengan Aishiteru.

9. Bahasa itu dinamis.
Karena keterkaitan bahasa itu dengan manusia, sedangkan dalam kehidupan bermasyarakat kegiatan itu tidak tetap dan selalu berubah , menjadi tidak tetap, menjadi tidak statis. Karena itulah bahasa itu disebut dinamis.
Contohnya:
Download dan upload berubah menjadi unduh dan unggah.

10. Bahasa itu bervariasi.
Anggota suatu masyarakat beraneka ragam, ada yang berpendidikan, ada juga yang tidak, ada yang berprofesi sebagai dokter, petani, nelayan,dan sebagainya. Oleh karena latar belakang lingkungan yang tidak sama maka, bahasa yang mereka gunakan bervariasi atau beragam.
Contohnya:
Pedagang sate Madura dengan pedagang sate banjar menyebutkan kata satenya berbeda. Pedagang maduar ( te satte ) sedangkan pedagang banjar ( sate ).

11. Bahasa itu manusiawi.
Maksudnya adalah bahwa alat komunikasi manusia yang namanya bahasa adalah bersifat manusiawi, dalam arti hanya milik manusia dan hanya digunakan oleh manusia.
Contohnya:
Hanya di miliki oleh manusia.

Sunday, March 3, 2019


"Berbahasa Indonesia lah dengan baik dan benar".
Kalimat ini sudah sering kali kita baca, dengar, atau tulis. Terkesan sepele dan hanya sekadar formalitas. Tapi kalau diresapi benar-benar, sungguh dalam maknanya.
Apa sebenarnya maksud dari kalimat pertama di atas?
Bahasa sebagai salah satu sarana komunikasi antar sesama manusia tentunya bertujuan agar dapat dimengerti oleh manusia lainnya. Meskipun berbicara dalam satu bahasa yang sama, dalam hal ini bahasa Indonesia, namun ragam bahasa yang dipakai tidaklah sama. Masing-masing kelompok menggunakan ragam bahasa yang berbeda. Pemanfaatan ragam bahasa yang tepat dan serasi menurut golongan penutur dan jenis pemakaian bahasa inilah yang disebut berbahasa yang baik. Dapat dikatakan, berbahasa yang baik adalah berbahasa yang sesuai konteks.
Sementara berbahasa yang benar adalah jika pemakaian bahasa -dalam hal ini bahasa Indonesia- mengikuti kaidah yang dibakukan. Bahasa yang baik dan tepat sasaran tidak selalu menggunakan kaidah baku ini. Misalnya, pemakaian bahasa Indonesia untuk percakapan sehari-hari tentu berbeda dengan pemakaian bahasa Indonesia dalam sebuah pidato formal.
Pengertian kalimat tersebut tentu juga mencakup bahasa tulisan. Meski mengaku suka menulis, tapi akan berkurang maknanya ketika kita tak benar-benar memahami dan menggunakan kaidah penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Cobalah membuat satu tulisan dengan kata-kata yang disusun secara serampangan. Sungguh akan terasa tak enak dibaca.
Meski isi tulisan mungkin berisi, namun alih-alih memberi manfaat dan kesan bagi pembaca, tulisan kita hanya dibaca sekilas lalu ditinggalkan. Pembaca ingin buru-buru saja mengakhiri bacaannya, menangkap intinya saja, lalu ya sudah. Jika beberapa kali pembaca menemukan kesemrawutan berbahasa itu di tulisan kita, maka bukan tak mungkin pembaca akan benar-benar meninggalkan tulisan kita untuk seterusnya. "Capek bacanya", mungkin itu yang dirasakan.
Saya bersyukur ketika masa-masa penulisan skripsi dulu, saya dibimbing oleh dua orang dosen yang sangat memerhatikan kaidah penulisan bahasa Indonesia dalam lingkup karya ilmiah. Beliau berdua ketat sekali soal penulisan ini. Salah sedikit, bahkan satu huruf atau tanda baca saja, akan langsung dikoreksi. Istilah asing yang lupa dimiringkan -dengan italic- atau hanya sekadar kata "yang", "di" yang tak tepat penggunaannya, tak segan-segan mereka beri tanda merah. Mereka ternyata benar-benar memerhatikan karya tulis mahasiswanya. Bukan asal koreksi. Lebih dari itu, mereka menuntut kesempurnaan sebuah karya. Meski itu "hanya" sebuah skripsi. Dari pengalaman itu, saya benar-benar belajar tentang pentingnya kesempurnaan dalam menghasilkan sebuah karya tulis. Saya jadi cenderung perfeksionis kalau soal berbahasa tulis ini.
Untungnya, saya memang suka menulis dan senang kata-kata. Jadi koreksi-koreksi yang saya terima dari dua dosen saya itu justru menambah pengetahuan saya tentang penulisan dalam koridor bahasa Indonesia yang baik dan benar. Semua koreksi itu saya anggap ilmu yang memerkaya kecintaan saya akan bahasa Indonesia. Kebiasaan dikoreksi itu lambat laun juga membuat saya jadi si pengoreksi. Sedikit saja kesalahan berbahasa yang saya tangkap, akan coba saya koreksi sepanjang yang saya tahu.
Satu huruf yang kurang, salah, atau satu kata dan kalimat yang tak tepat penulisannya, akan membuat saya gatal untuk mengoreksi. Masalah kata-kata baku dan tidak baku, imbuhan yang tak tepat pakai, sampai penulisan kata-kata yang huruf awalnya luruh jika dimulai oleh "K", "P", "S", "T". Tak jarang, teman-teman dan keluarga yang tahu tentang kebiasaan saya ini menjuluki saya sebagai "guru Bahasa Indonesia". Hahaha... Jadinya, saya sering dimintai pendapat tentang suatu kata atau tulisan tertentu. Tak apalah. Menjadi "guru Bahasa Indonesia" tentu asyik juga. Hehehe...
Sering saat saya sedang menonton televisi dengan suami, saya menemukan ada kata yang dirasa kurang tepat atau kurang pas yang tertulis di news ticker atau yang dilafalkan pembaca berita dan presenter sebuah acara. Lalu kami akan mendiskusikannya. Bukan secara formal tentunya. Hehehe... Atau sambil jalan lalu melihat plang Apotek yang masih ditulis "Apotik", Antre yang ditulis dengan "Antri" atau Praktik yang masih banyak ditulis dengan "Praktek". Itu pun pernah jadi bahan obrolan. Tapi itu sudah menjadi sebuah kesenangan tersendiri bagi saya. Dari hal-hal kecil tersebut saya jadi merasa terlatih untuk lebih baik berbahasa. Lama kelamaan, suami saya juga jadi ikut-ikutan perfeksionis dalam berbahasa. Akhir-akhir ini, malah saya yang sering dikoreksi. Hehehe...
Hal kesempurnaan berbahasa tulis ini tentunya juga penting dalam rangka penulisan selain karya ilmiah. Menulis di blog pun, meski hanya berisi uneg-uneg atau hal remeh temeh yang dijalani setiap hari, sebisanya tetap harus tunduk pada aturan berbahasa yang baik dan benar.
Bukan berarti harus berbahasa yang ketat atau kaku. Silakan saja menulis seperti saat sedang mengobrol. Tapi hendaknya konsisten dalam penulisan "aku" atau "saya", "kau" atau "kamu" atau kata ganti lainnya. Konsisten juga untuk memilih gaya bahasanya. Kalau sejak awal bahasanya -bukan berarti bahasannya- cenderung serius, seterusnya begitu sampai akhir tulisan. Begitu juga jika sejak awal sudah ber-haha hihi dengan bahasa gaul, ya silakan saja. Jadi hal penting lain memang adalah konsistensi berbahasa. Boleh berbahasa gaul, menulis dengan gaya seperti bercakap-cakap dengan teman, namun harus diingat untuk menggunakannya sesuai konteks. Variasi jenis bahasa tulisan ini juga baik untuk melatih kreativitas kita sebagai penulis dan agar pembaca tak bosan membaca tulisan-tulisan kita yang semuanya terkesan seragam.
Dari gaya penulisan dan cara kita menulis, sedikit banyaknya pembaca bisa tahu siapa diri kita, bagaimana pemikiran kita, sampai seberapa luas pengetahuan dan wawasan yang kita miliki. Yang terakhir itu dimungkinkan dengan kekayaan perbendaharaan kata karena kebiasaan membaca. Sekilas kepribadian kita juga bisa terbaca dari kata-kata yang kita susun menjadi kalimat-kalimat, menjadi paragraph-paragraf, menjadi tulisan-tulisan. Hanya dari membaca beberapa tulisan kita saja, pembaca bisa menilai bagaimana diri kita. Seberapa besar minat kita dalam berbahasa serta belajar menggunakannya sesuai konteks dan penulisan yang baik dan benar, dapat terangkum dari tulisan-tulisan yang kita hasilkan.
Jadi, sebagai orang yang mengaku bertanah air dan berbangsa Indonesia, mari kita juga cerdas berbahasa Indonesia. Bukankah salah satu cara untuk menghargai sumpah para pemuda pada 28 Oktober 1928 lalu adalah dengan mencintai bahasa Indonesia dan belajar menggunakannya sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar?

pengertian bahasa dan hakikat bahasa

PENGERTIAN BAHASA DAN  HAKIKAT BAHASA A. Pengertian Bahasa Dalam beberapa abad, para linguistik dan psikolog telah berusaha m...